HAKIKAT MATEMATIKA
A. Pengertian Matematika
Matematika
merupakan ilmu yang dapat membantu bagi ilmu-ilmu yang lain, baik dari segi
pengembangan ilmu yang bersangkutan, maupun dalam terapannya pada aspek
kehidupan sehari-hari. Aktifitas keseharian manusia tidak akan terlepas dari
terapan matematika, meskipun dalam bentuk yang sederhana, seperti penggunaan
operasi hitung dan logika. Oleh karena itu, idealnya setiap kita mengerti
tentang matematika minimal terapannya. Apalagi bagi guru maupun calon guru
matematika, adalah penting untuk mengerti apa itu matematika, dan bagaimana karakteristik
pelajaran, matematika serta aplikasinya dalam pemecahan masalah kehidupan
manusia. Bahkan apabila memungkinkan
guru atau calon guru matematika perlu mengikuti perkembangan matematika
dari kurun waktu ke waktu.
Sebagian orang menghubungkan matematika dengan bilangan, atau
ada pula yang mengartikan matematika sebagai ilmu hitung-menghitung yang penuh
dengan hafalan rumus. Hal ini tidaklah mengherankan, karena memang baru itu
yang mereka kenal. Padahal matematika memiliki cakupan yang lebih luas dari
sekedar permainan bilangan dan hitung menghitung atau aritmatika belaka.
Aritmatika hanyalah merupakan bagian kecil dari matematika sebagaimana
geometri, aljabar, trigonometri, dan analisis. Matematika juga bukan hanya
sekedar menghafal rumus, tetapi juga menyangkut bagaimana rumus itu
diformulasikan, untuk kemudian diterapkan. Meskipun luas cakupannya, namun
demikian bukan berarti matematika tak dapat didefinisikan. Lalau apa itu
matematika?.
Dari sudut pandang yang berbeda, beberapa ahli memberikan
batasan tentang matematika, sebagaimana disajikan berikut ini.
1. Johnson dan Myklebust ( Mulyono
Abdurrahman, 2003: 252 ), mendefinisikan bahwa matematika adalah bahasa simbol
yang berfungsi untuk mengeskpresikan hubungan kuantitatif dan keruangan, serta
untuk memudahkan berpikir.
2. Lerner mengemukakan, matematika
disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang
memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai
elemen, dan kuantitas.
3. Menurut Paling, matematika adalah suatu cara
untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, dengan
menggunakan informasi, pengetahuan tentang bentuk dan aturan, dan pengetahuan
tentang menghitung.
4. Kline, mengatakan bahwa matematika
merupakan bahasa simbolis, dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar
deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif. Matematika bukan
pengetahuan yang berdiri sendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi keberadaannya untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai
permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
5. James dan James (Karso, 1994: 2)
mengemukakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk,
susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lain dengan
jumlah yang banyak.
6. Herman Hudoyo (1988: 3), melihat
matematika dari strukturnya. Ia memberi batasan bahwa matematika adalah ide
atau konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dengan penalarannya yang
deduktif.
7. Johnson dan Rising menyatakan bahwa
matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik.
Matematika merupakan bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan
cermat, jelas dan akurat, representasinya diwujudkan dalam bentuk simbol yang
padat. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur yang terorganisasikan,
sifat-sifat atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya, dianut secara
deduktif berdasarkan pada unsur-unsur yang didefinisikan, atau tidak
didefinisikan, dan aksioma-aksioma. Matematika adalah suatu seni, keindahannya
terdapat pada keterurutannya, dan keharmonisannya.
8. Batasan yang lain tentang matematika
adalah ilmu tentang struktur yang logis, ilmu tentang pola dan hubungan, ilmu
deduktif, serta matematika juga dipandang sebagai bahasa dan seni.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas dapat
diindikasikan bahwa pandangan tentang matematika dapat diidentifikasikan dari berbagai
hal antara lain : 1) dari fungsinya, sebagaimana dikemukakan oleh Johnson &
Myklebust, Lerner, dan Paling. 2) dari metodenya, seperti dipaparkan oleh
Kline. 3) dari struktur dan isinya, sebagaimana dikemukakan oleh James &
James, Herman Hudoyo. Atau dari gabungan ketiganya, seperti pendapat Johnson
& Rising. Hal ini tergantung pada pengalaman dan pengetahuan dari
masing-masing para ahli, sehingga pengertian tentang matematika menjadi lebih
luas dan beragam. Beragamnya definisi matematika tersebut menunjukkan bahwa belum
adanya pengertian matematika yang tunggal.
B. Aliran
Dalam Matematika.
Belum adanya kesepakatan tentang pengertian matematika
secara utuh, tentu bukan berarti bahwa telah terjadi kebuntuan dalam melihat
matematika sebagai sebuah ilmu. Para ahli terus mencari pendekatan dan strategi
untuk memformulasikan pandangan tentang matematika yang representatif, sehingga
dapat bermanfaat secara optimal bagi kehidupan manusia. Aneka ragam pandangan
tentang metematika, justru akan menambah kemungkinan optimalisasi peran
matematika dalam berbagai disiplin ilmu, dan pengembangannya.
Pada akhir abad ke 20, para ahli mencoba melakukan
pendekatan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi tinjauan matematika. Munculah
beberapa aliran besar dalam merumuskan tentang apa dan bagaimana matematika,
yaitu antara lain Aliran Logikisma, Aliran Intuisionisma, dan Aliran Formalisma
( Herman Hudoyo, 1988: 84 ).
1. Aliran Logikisma.
Aliran ini menyatakan
bahwa matematika itu merupakan cabang dari logika. Ide dan gagasan dalam
matematika merupakan turunan dari logika melalui perumusan yang jelas dan
tepat, serta dengan menggunakan penalaran deduktif semata. Hal ini berarti
bahwa matematika dapat dikembalikan kepada logika, sehingga matematika itu
adalah memang sebuah logika. Logika adalah ilmu tentang ide-ide atau gagasan
dan bagaimana ide atau gagasan tersebut digunakan dalam sebuah argumen. Logika
lebih memperhatikan bentuk dari suatu argumen dari pada keakuratan faktanya. Ide
awal atau gagasan dirangkaikan dengan kata penghubung seperti ” jika ... maka
..., ” dan ”, ”atau”, serta ”tidak benar bahwa ...”, dan yang lainnya. Untaian
pernyataan dengan kata penghubung itulah yang membawa kita pada suatu
kesimpulan atau konklusi. Dalam hal ini matematika dipandang sebagai kumpulan dari
pernyataan logika, yang menjelaskan hubungan antara kalimat-kalimat yang isinya
telah diabstraksikan, sedemikian hingga bentuknya dapat disajikan dalam bahasa
simbol. Salah satu tokoh yang telah mempelopori aliran ini adalah Bertrand
Russel, seorang ahli logika dari Inggris
( 1872 – 1971 ). Paradok Russel, adalah salah satu karyanya, yang sangat
dikenal sebagai sebuah paradok yang bercerita tentang seorang tukang cukur.
Menurut aliran ini,
logika adalah tulang punggung matematika. Kebenaran matematisi diukur
berdasarkan kelogisan dari rangkaian pernyataan-pernyataan penyusunnya.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pemahaman fenomena
ritualitas misalnya, terdapat pernyataan yang tidak dapat dijangkau oleh ranah
logika semata. Oleh karena itu, hadirnya aksioma dalam matematika akan menambah
kelengkapan perangkat bagi proses pemahaman dan pengetahuan, serta untuk pemecahan
masalah dalam kehidupan manusia secara utuh.
2. Aliran Intuisionisma.
Para ahli matematika yang tergabung dalam aliran ini
memandang bahwa matematika merupakan hasil dari olah pikir manusia belaka, yang
tidak bergantung pada pengalaman dan tidak pula bersifat subjektif. Penggunaan
bahasa simbol hanyalah untuk membantu menyampaikan gagasan pikiran tersebut,
agar orang lain dapat mengikuti alur yang terkandung dalam olah pikir logika
matematikanya. Logika yang dianut oleh aliran ini mensyaratkan bahwa setiap
penjelasan harus dapat dibuktikan secara deduktif, dengan didukung oleh sesuatu
susunan tertentu, sesuai hasil olah pikir terhadap fenomena yang terjadi. Tokoh
yang mempelopori aliran ini adalah L. E. J. Brouwer ( 1881 – 1960 ), seorang
matematikawan dari Belanda.
3. Aliran Formalisma.
Pengikut aliran ini
berpendapat bahwa matematika merupakan ilmu tentang struktur formal dari
langkah pengoperasian simbol-simbol yang kosong arti. Simbol-simbol tersebut dapat
mewakili semua kajian yang bersifat secara umum dalam matematika. Logika yang
digunakan juga merupakan logika formal yang mengacu pada struktur yang berlaku,
dengan pengambilan kesimpulan berdasarkan metode deduktif argumentatif, tanpa
menghiraukan makna dari pernyataan-pernyataannya. Contoh, jika 3 bersaudara
dengan 4, dan 4 bersaudara dengan 5, maka kesimpulannya adalah bahwa 3
bersaudara dengan 5. Logika formal membenarkan hal tersebut, meskipun makna
masing-masing pernyataannya tidaklah lazim digunakan. Aliran ini dipelopori
oleh tokoh matematikawan dari Jerman,
yakni David Hilbert ( 1862 – 1942 ).
Menurut aliran ini,
kebenaran dalam matematika harus dapat berlaku secara universal. Karena
kesimpulan yang diperolehnya memang diturunkan dari unsur-unsur yang bersifat
umum. Dengan demikian, pembuktian kebenarannyapun tidak dapat diambil
berdasarkan contoh-contoh yang hanya merupakan wakil secara khusus.
Meskipun sudah mengerucut dalam tiga aliran sebagaimana telah
diuraikan, namun hingga sekarang masih belum ada definisi matematika yang dapat
disepakati oleh semua pakar matematika. Secara teoretis penulis berpendapat
bahwa matematika adalah suatu sistem yang konsisten dalam bangunan keilmuan,
yang tersusun secara hirarkis dari ide abstrak dengan menggunakan penalaran
deduktif, sehingga membentuk struktur tertentu. Batasan tersebut tentu belum
mencakup keseluruhan aspek kajian secara utuh yang terdapat dalam matematika. Belum
lagi apabila ditelusur dari fungsi dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam disiplin ilmu yang lain, tentu akan menjadi lebih beragam lagi
batasan tentang matematika. Namun demikian setidaknya ada sebuah kerangka
dengan pilar-pilarnya sebagai sesuatu yang dapat dijadikan ciri atau petunjuk untuk
mengenalinya. Oleh karena itu perlu ada pendekatan lain untuk mengenal
matematika lebih jauh. Salah satu pendekatan tersebut adalah dengan melakukan
identifikasi terhadap karakteristiknya, yang secara umum dapat dijadikan sebagai
salah satu ciri dalam mengenali matematika secara lebih komprehensif.
C. Karakteristik Matematika.
R. Soedjadi, (2000: 13) mengemukakan bahwa ada beberapa
karakteristik yang terdapat dalam pelajaran matematika, antara lain sebagai
berikut:
1. Objek Kajian yang Abstrak.
Objek dasar yang dipelajari dalam matematika adalah
sesuatu yang abstrak, atau sering disebut objek pikiran atau objek mental. Objek
dasar yang merupakan objek pikiran tersebut tersebut meliputi fakta, konsep,
prinsip, dan skill. Uraian tentang objek tersebut akan disajikan secara tersendiri
pada pembahasan berikutnya dalam bab yang lain. Dari objek dasar tersebut
kemudian dapat disusun pola dan struktur matematika, yang merupakan landasan
bagi kaidah pengembangan selanjutnya.
2. Berdasarkan Kesepakatan.
Karena keabstrakan dari objeknya tersebut, maka perlu adanya
kesepakatan. Kesepakatan-kesepakatan itu kemudian dituangkan antara lain dalam
bentuk :
a. Konsep primitif,
atau sering disebut pengertian pangkal atau unsur yang tidak didefinisikan ( undefined
term ). Contoh pengertian pangkal adalah titik, garis, bidang, sudut, dan
lainnya. Unsur-unsur tersebut merupakan ide dasar atau gagasan yang tidak
memerlukan pendefinisian. Dari konsep primitif ini kemudian dapat diturunkan
menjadi konsep-konsep yang didefinisikan. Misalkan definisi segitiga, Kubus,
fungsi, dan seterusnya.
b. Aksioma, atau
sering disebut pernyataan pangkal, merupakan suatu pernyataan yang tidak
membutuhkan adanya pembuktian. Contohnya, dua garis yang sejajar tidak akan
pernah betemu pada suatu titik. Beberapa aksioma dapat membentuk sistem
aksioma, yang kemudian dapat diturunkan menjadi teorema-teorema.
c. Suatu aksioma
dapat terbentuk dari konsep primitif. Disamping itu suatu teorema juga dapat
terbentuk dari konsep-konsep yang didefinisikan. Jadi ada hubungan antara
konsep primitif dan konsep yang didefinisikan dalam membangun struktur
matematika, berdasarkan kesepakatan tertentu. Paparan lebih lanjut akan
dibicarakan pada bahasan tentang struktur matematika.
3. Menggunakan Simbol.
Keabstrakan objek dasar matematika, juga menuntut
digunakannya simbol-simbol dalam mengekspresikannya, baik berupa huruf ( abjad,
Yunani, Romawi ), gambar, dan atau rangkaian dari keduanya, serta tabel.
Demikian pula tanda atau simbol-smbol yang lain seperti, persen, permil,
derajat, negasi, tak berhingga, sama dengan, lebih besar, lambang operasi, dan
seterusnya. Makna dari simbol-simbol itu, tergantung dari semestanya. Misalnya
simbol a + b = c, adalah sesuatu yang tak bermakna ketika belum ada semestanya.
Jika semestanya bilangan bulat, maka itu berarti menunjukkan adanya sifat ketertutupan pada bilangan bulat. Namun bila
semestanya vektor, berarti vektor c
merupakan resultan dari vektor a
dan vektor b. Fleksibelitas
makna dari simbol-simbol tersebut justru memungkinkan aplikasi matematika
menjadi lebih luas pada berbagai ilmu pengetahuan yang lain, yang penyajiannya
sering dituangkan dalam bentuk model matematika. Dengan demikian secara fungsional
matematika dapat menjadi alat bantu bagi berkembangnya ilmu yang lain, sekaligus
merupakan dinamisator bagi berkembangnya matematika itu sendiri. Namun demikian
di sisi yang lain, penggunaan simbol dapat menimbulkan berbagai tafsiran. Multi
tafsir dari adanya simbol-simbol matematis tersebut, juga dapat menimbulkan masalah
tersendiri bagi yang mempelajarinya, yakni munculnya berbagai kasus kesulitan
belajar matematika.
4. Pola Pikir Deduktif.
Pola pikir deduktif berpangkal dari ketentuan yang bersifat
umum, untuk diterapkan atau diarahkan pada ketentuan atau hal yang bersifat
khusus. Misalnya ada teorema yang menyatakan bahwa jumlah dua bilangan ganjil
adalah bilangan genap. Hal ini harus dapat dibuktikan secara umum. Caranya
adalah dengan mengambil sembarang dua bilangan ganjil tersebut, misalnya x dan
y, maka dua bilangan tersebut dapat dinyatakan dengan x = 2n + 1, dan y = 2m +
1, sehingga x + y = (2n + 1) + (2m + 1) = 2n + 2m + 2 = 2 (n + m + 1) = 2k,
untuk setiap n, m dan k bilangan asli. Dan dapat dimengerti bahwa 2k adalah
bilangan genap. Dengan demikian adalah benar bahwa jumlah dua buah bilangan
ganjil merupakan bilangan genap. Namun demikian pada matematika di sekolah,
kadang dijumpai pula bentuk pola pikir yang bersifat induktif. Dalam hal ini,
untuk teorema di atas sering dijelaskan dengan mengambil contoh-contoh
penjumlahan dua bilangan ganjil yang ternyata memang meghasilkan bilangan
genap. Contoh seperti : 1 + 3 = 4, dan 5 + 7 = 12, serta 13 + 15 = 28 dan seterusnya.
Dari contoh-contoh tersebut kemudian disimpulkan bahwa jumlah dua buah bilangan
ganjil adalah sebuah bilangan genap. Pembuktian dengan contoh ( induktif ) semacam
ini tidak berlaku dalam tataran pola pikir matematika. Pola pikir induktif ini sebenarnya
hanya dilakukan sekedar untuk menyesuaikan dengan tingkat perkembangan
psikologis dan mental anak yang belum dapat menerima pola pikir yang deduktif.
Atau bagi seseorang yang belum memiliki landasan teorema tentang hal tersebut.
5. Konsisten dalam
Sistemnya.
Terdapat berbagai sistem dalam matematika, dan
masing-masing sistem itu terdiri atas sub-sub sistem yang satu sama lain saling
terkait. Misalnya pada sistem aljabar, ada sistem aksioma dari grup, sistem
aksioma dari ring, sistem aksioma dari field. Sistem bilangan, sistem
keruangan, sistem pengukuran, dan lain-lain. Kemudian pada masing-masing sistem
aksioma tersebut mestinya tidak akan ada kontradiksi atau bertentangan antara
aksioma yang satu dengan aksioma yang lain. Sebab apabila ada kontradiksi
antara dua aksioma saja, itu berarti sudah tidak memenuhi lagi syarat
konsistensi dalam sistem aksioma tersebut.
D.
Perkembangan Matematika
Dalam pandangan tradisional, matematika hanya dianggap
sebagai ilmu tentang kuantitas ( the science of quantity ), sehingga
terkesan hanya terbatas pada masalah hitungan ( aritmatika ) belaka, yang
melibatkan manipulasi bilangan dengan berbagai operasi yang ada. Matematika
juga sering diartikan sebagi ilmu tentang ukuran yang bersifat diskrit. Tidak
jarang pula orang atau sekelompok orang yang mencoba mempersempit jangkauan
matematika hanya sebatas sebagai ilmu tentang keruangan ( geometri ).

Catatan yang kurang menyenangkan dari perkembangan
matematika, terjadi hingga sekitar tahun tujuh puluhan, yakni ketika matematika
masih diistilahkan dengan sebutan ilmu pasti. Dari sebutan tersebut, terkesan
bahwa apa yang dipelajari dalam matematika adalah sesuatu yang sudah pasti
adanya, atau sudah pasti kebenarannya, ketepatannya, dan kepastian-kepastian
yang lain. Seolah matematika menjadi hakim yang akan menentukan antara benar dan
salah dari suatu permasalahan. Padahal pada kegiatan pengukuran misalnya, ada
peluang akan terjadinya kesalahan di sekitar ukuran yang pasti. Hal ini dikenal
dengan istilah toleransi.
Pandangan bahwa matematika sebagai ilmu pasti, secara
keilmuan juga akan dapat menghambat bagi perkembangan matematika itu sendiri, maupun
bagi ilmu pengetahuan pada umumnya. Karena ketika bersinggungan dengan teori
aproksimasi, maka angka kepastiannya menjadi tidak tunggal. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa matematika bukan lagi sebagai alat untuk menyelesaikan
masalah. Di sisi yang lain, matematika justru berkembang salah satunya didukung
oleh adanya teori aproksimasi tersebut. Disamping itu, pandangan bahwa
matematika merupakan ilmu pasti, secara psikologis juga akan dapat merugikan
bagi para siswa. Mereka sudah merasa terbebani dengan berbagai ilusi negatif
tentang ”pasti”nya matematika, sebelum mereka belajar. Maka muncullah persaan
takut, dan cemas, yang berakhir pada perilaku untuk menghindarkan diri dengan
matematika. Kondisi ini juga akan berimbas khususnya pada para pendidik dan calon
pendidik matematika, ketika akan menyampaikan materi pelajaran matematika
kepada peserta didik. Dan dampak tersebut masih sangat dirasakan hingga
sekarang. Ditengarai masih banyak orang tua atau siswa yang beranggapan bahwa
matematika merupakan pelajaran yang sangat membosankan, dan paling sulit untuk
dipelajari, karena materinya hanya berkisar pada simbol x dan y. Dan masih ada
sederet predikat lain yang menggambarkan tidak enaknya matematika untuk
dipelajari. Belum lagi ketika dikaitkan dengan guru yang mengajarkannya. Yang
galak, tidak pernah senyum, wajahnya penuh rumus, dan sebagainya.
Hingga sekarang ini matematika telah berkembang bukan
saja dari segi strukturnya, melainkan juga dari segi analisanya. Bagian dari
matematika seperti Aljabar, geometri, Aritmatika, serta analisis, masing-masing
bagian tersebut masih akan terus berkembang lagi dengan berbagai cabangnya
seperti ilmu komputer, statistika, teori bilangan, trigonometri dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar